Posted by: sabrirasyid | July 2, 2007

Inspirasi Midnight Sale dari Jakarta

Sore ini, saya baru tiba dari Jakarta…disepanjang penerbangan, tiba-tiba mata saya tertarik dengan berita “Midnight Sale” di Senayan City Jakarta yang dimuat koran SINDO. Saya membayangkan bagaimana agar konsep ini juga sekali-sekali diadakan di Makassar. Jangan hanya pada saat hari raya saja, Mal dan supermarket buka sampai jam 24.00wita. Mumpung Makassar akan ber-ulang tahun ke 400 pada tahun ini, saya akan coba menyampaikan ide ini ke Walikota Makassar agar bisa mengajak Mal dan Departmen Store yang ada untuk turut menggalakkan konsep ini. Cukip 2 hari saja, pas hari ulang tahun Makassar.

Posted by: sabrirasyid | June 27, 2007

Strategi Kampanye Pilkada (Sul-Sel)

Judul diatas sama sekali tidak bermaksud untuk mengulas atau meng-kampanye-kan Calon Gubernur Sul-Sel yang saat ini sedang giat ber-promosi. Saya hanya terinspirasi dari tulisan seorang pakar bahasa Indonesia pada sebuah media nasional, bahwa orang Indonesia lebih cepat mengenal kata atau merek yang terdiri dari dua suku kata. Mirip dengan strategi pembuatan merek yang menganjurkan menggunakan kata sederhana agar mudah diingat, mudah dibaca dan ditulis.

 

Faktanya, berbagai merek yang sukses dipasar ternyata membuktikan strategi dua suku kata tadi. Contoh sederhana, koran yang sedang Anda baca ini FAJAR terdiri dari dua suku kata. Bandingkan jika koran ini bernama FAJAR BARU, pasti daya tangkap kita akan berbeda dibanding merek yang pertama. Berbagai merek yang menguasai pasar seperti; NOKIA, HONDA, SONY, NIKON, SHARP, ACER dan lain-lain. Beberapa merek lokal-pun juga menganut strategi ini seperti; warkop PHOENAM, warkop UGI, minyak gosok cap TAWON, kacang AYAM.

 

Lantas bagaimana dengan merek yang menggunakan lebih dari dua suku kata? Tentu saja tetap bisa sukses dipasar dengan menggunakan berbagai strategi. Yang pasti effort dan waktu yang digunakan akan berbeda. Sebagai contoh, YAMAHA yang baru saja sukses menjadi market leader di awal tahun ini setelah melewati masa yang cukup panjang menghadapi dominasi Honda.

 

Beberapa merek yang panjang menggunakan strategi singkatan agar lebih mudah dikenali dan diingat. Presiden Indonesia Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, merek Hawlett Packard disingkat HP, Studio 21 disingkat TO, Mc Donald dikenal dengan McD, Kentucky Fried Chicken menjadi KFC, jalan Botolempangan disingkat Botlem, Mal Ratu Indah menjadi MARI, Mal Panakkukang menjadi MP, PT. Telekomunikasi Indonesia dikenal dengan TELKOM, Excelcomindo disingkat XL, Ujungpandang Ekspress menjadi UPEKS dan lain sebagainya.

 

Kembali ke judul diatas, saya yakin Tim Sukses Cagub telah memikirkan berbagai strategi untuk menguasai benak calon pemilih. Termasuk strategi pemilihan singkatan bagi nama calon untuk menjadi materi promosi. Konsep memasarkan Cagub adalah personal branding strategy. Karena nama Cagub juga sama dengan merek. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari dan meng-implementasi-kan konsep personal branding ini. Perlu diingat bahwa dalam pemasaran, tiada lain bertujuan menciptakan persepsi terhadap merek untuk masuk ke benak pasar (mind share) hingga menguasai hati pemilih (heart share).

 

Mengapa heart share? Karena para pemilih kita adalah pasar yang rasional dan akan bertindak sesuai dengan hati nuraninya. Selamat merebut hati pasar.

Posted by: sabrirasyid | June 27, 2007

Why Marketing?

Blog ini sengaja kami buat untuk menampung segala inspirasi pribadi tentang marketing. Inspirasi bisa bersumber dari mana saja. Mendengar cerita sukses maupun kegagalan pelaku bisnis, melihat perilaku pasar, membaca dari berbagai media…pokoknya segala hal bisa menjadi sumber inspirasi.

Tulisan yang saya angkat disini berupa tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Harian FAJAR (Jawa Pos Grup) dan Majalah lokal Makassar Terkini. Objek tulisan saya selalu berdasarkan pada kondisi kota Makassar.

Selamat mengarungi lautan INSPIRASI….!

Posted by: sabrirasyid | June 25, 2007

Anda dan Pesaing

Tanpa terasa kita sudah memasuki triwulan pertama tahun 2007. Biasanya triwulan pertama ini merupakan tonggak untuk melaksanakan segala marketing plan yang telah disusun sebelumnya. Ada suatu hal yang sering diabaikan pada saat menyusun marketing plan, yakni mengantisipasi kehadiran pesaing atau bagaimana strategi memenangkan persaingan.

Masalahnya adalah, terkadang kita merasa takut dengan hadirnya produk pesaing. Sehingga seolah-olah harus menghalalkan segala cara untuk memenangkan persaingan. Padahal mestinya kita merasa bersyukur dengan hadirnya pesaing karena pasar akan semakin bertambah besar. Jika selama ini kita hanya sendiri dalam menggarap dan mengedukasi pasar, maka dengan adanya pesaing otomatis mereka akan melakukan hal yang sama pada target pasar yang selama ini belum tersentuh.

Saya sering mengamati, bisnis warung makan sea-food yang berani berdiri  secara berderet dan berkelompok dipinggir jalan. Hampir seluruh warung makan tersebut menawarkan produk yang sama dan bahkan bentuk tulisan yang ditampilkan pada kain pembatas semuanya mirip. Ada nama pemilik dari Jawa, ada gambar ikan, kepiting, kerang, cumi dan udang, jenis huruf dan warna kain yang hampir seragam. Lalu, bagaimana hasilnya? Ternyata masing-masing bisa tumbuh dan berkembang tanpa merasa takut kehilangan pembeli. Pembeli akan merasa lebih mudah dalam memilih karena banyaknya pilihan dan tempatnya terkonsentrasi.

Nah, kalau para pedagang warung makan tersebut tidak merasa takut dengan adanya persaingan. Mengapa justru kita yang bergelut dengan bisnis retail atau skala menengah-besar juga masti takut dengan hadirnya pesaing? Justru dengan kehadiran pesaing akan semakin memperbesar peluang untuk menikmati kue pasar yang besar. Tinggal bagaimana kita menyusun strategi dan mengeluarkan ide-ide kreatif yang jitu untuk memenangkan persaingan secara elegan.

Pada era tahun 80-an, saya tidak pernah membayangkan akan muncul layanan warung coto yang buka 24 jam. Kini, Anda dapat dengan mudah menemukan warung coto bagadang.  Bahkan sudah mulai ditambahkan promosi gratis ketupat, harga murah rasa selangit, hingga menyediakan pemain musik untuk menghibur para pelanggannya. Hanya saja, saya masih belum mendapatkan warung coto yang menyediakan ruangan ber-AC, mungkin karena coto ini nikmat disantap sambil berkeringat.

Kreatifitas para penjual coto ini luar biasa, begitu pula makanan khas sop konro yang kini mulai dimodifikasi dengan menu konro bakar. Di Jakarta, menu sop konro kini menjadi buah bibir bagi penikmat kuliner, bahkan salah satu restoran makanan khas Makassar di Casablanca menyediakan menu sop konro dengan nama yang lebih keren yakni Tata Ribs. Seorang rekan saya pencinta menu steak berkelakar, menu tulang sapi dikenal dengan nama T-Bone Steak lalu untuk daging sapi dengan istilah Tenderloin Steak sedangkan menu tulang iga dikenal dengan nama Konro.

Di Bandung tepatnya di jalan Setiabudi, Anda akan menjumpai sebuah restoran yang cukup besar dan ramai dikunjungi yakni restoran ikan bakar khas Makassar. Menu yang ditawarkan semua khas Makassar, dengan menu utama ikan bakar dan kue khas pisang ijo. Tempatnyapun sangat nyaman, tersedia ruangan ber-AC dan non-AC. Nama-nama makanan masih kental dengan sebutan khas Makassar seperti pisang ijo, barongko, ikan baronang dan cepa’. Ternyata kejelian untuk menangkap peluang bisnis masakan khas Makassar ditengah banyaknya restoran khas daerah dan modern di Bandung tidaklah sia-sia. Terbukti dari tamu yang datang bukan hanya berasal dari Makassar yang sedang berada di Bandung tetapi justru dari penduduk asli Bandung.

Kreatifitas konro bakar, coto bagadang, ikan bakar dan lain-lain, muncul karena adanya kondisi persaingan yang ketat. Sehingga hanya pelaku bisnis yang kreatiflah yang akan mampu merebut ceruk pasar yang ada.

 Terakhir, saya teringat dengan sebuah kisah tentang persaingan. Di suatu daerah, terdapat dua kelompok pedagang, satu kelompok pedagang roti dan satunya lagi pedagang daging sapi. Tiba-tiba satu orang dari masing-masing kelompok pedagang tersebut memiliki niat untuk menghabisi para pesaingnya. Perlahan-lahan dengan segala cara, mereka menghabisi satu per-satu pesaingnya dan berhasil. Namun, apa yang terjadi? Pembeli dagangan mereka semakin lama semakin berkurang. Mengapa? Ternyata pembeli produk mereka selama ini adalah para karyawan dan keluarga dari pedagang-pedagang yang ada. Karena mereka tidak punya pekerjaan lagi maka mereka meninggalkan kota tersebut dan pindah ke kota lain. Alhasil, justru dengan mematikan pesaing maka semakin memperkecil peluang pasar.  Jadi, mari kita sambut tahun ini dengan penuh harapan dan semoga semakin bermunculan pebisnis-pebisnis baru yang akan meramaikan pasar.

Posted by: sabrirasyid | June 24, 2007

Ketika Kembali ke Rumah

33 Alasan Pakai Telepon Rumah

Semut di seberang pulau terlihat, gajah di pelupuk mata tak tampak. Inilah pepatah yang mungkin menggambarkan telepon rumah saat ini. Di tengah derasnya inovasi di bidang telekomunikasi terutama seluler, telepon rumah seakan terlupakan.

Padahal, telepon rumah selalu setia untuk hadir menjadi andalan di rumah maupun dikantor. Pernakah anda membayangkan bahwa kebahagiaan kelurga adalah dambaan kita semua, kebahagiaan tersebut alangkah indahnya jika dibangun mulai dari berkomunikasi dirumah. Telepon rumah bisa menjadi point untuk hal tersebut. Tiba-tiba telepon rumah berdering dan sang Ayah mengangkat gagang telepon ternyata panggilan tersebut untuk sang anak, maka dengan hangat sang Ayah memanggil sang anak. Ini adalah sebuah komunikasi yang sederhana di rumah. Ini adalah sekelemit cerita komunikasi di rumah. Banyak hal yang membuat kita untuk menggunakan kembali telepon rumah.
Ada  33 alasan kembali ke telepon rumah. Bahkan, dalam beberapa hal menjadi nilai lebih telepon rumah, di tengah derasnya kemajuan teknologi saat ini.

Salah satu alasan menggunakan telepon rumah adalah sebagai identitas yang paling terpercaya. Survey bagi beberapa perusahaan, masih lebih mengandalkan telepon rumah sebagai bagian dari jaminan keabsahan sebuah aplikasi.untuk kepentingan bersama.

Akses internet dan data lebih cepat yang diluncurkan Telkom, yakni Speedy masih menjadi yang tercepat saat ini untuk layanan internet. Di samping harganya yang kompetitif. Penggunanya tidak merepotkan, hanya dengan menyolokkan kabel telepon ke PC atau laptop. Dengan telepon rumah, akses internet dapat juga dengan menggunakan Telkomnet Instant tanpa harus mencari lokasi yang pas untuk menghindari blank spot.

Saat ini, sejumlah vendor / produsen telepon rumah telah merilis sejumlah produknya yang fasilitasnya luar biasa. Seperti cordless yang mampu menjangkau hingga jarak 100 meter dan sejumlah fitur yang sama dengan ponsel. Dapat menyimpan nomor telepon / phonebook sehingga lebih memudahkan dalam menghubungi seseorang. Telkom sebagai pelopor telepon rumah senantiasa berinovasi guna mendukung sejumlah fasilitas untuk kemudahan pengguna. SMS, yang menjadi andalan ponsel kini dapat dilakukan telepon rumah. Disamping tarif berkomunikasi suara lewat telepon rumah yang lebih murah. Pengguna telepon yang ditunjang abonemen murah ini juga mengantongi kemudahan pembayaran rekening.
Sejumlah fitur dari Nadasela (call waiting),  Klip, Lacak (Call Forward), Fitur Andara (angkat dan bicara) dan fitur Trimitra (bicara bertiga) dapat digunakan pada telepon rumah saat ini.  Tak perlu panik menunggu telepon penting di saat ada telepon masuk. Fitur nadasela akan memberikan peringatan nada. Pengguna berhak untuk memilih tetap berbicara atau mengangkat telepon baru.

Pengguna telepon rumah juga dapat mengetahui telepon masuk dengan fitur KLIP, jika pengguna ingin menampilkan nomor telepon sang penelpon. Fitur Andara akan menyambungkan ke nomor yang dituju hanya dengan mengangkat gagang telepon. Selain itu, telepon rumah didukung pula dengan fitur Trimitra untuk berbicara dengan tiga orang sekaligus. Bagi pekerja yang menghabiskan banyak waktu di luar rumah, fitur Lacak (Call Forward) akan meneruskan panggilan di telepon rumah ke telepon lain yang dipilih penggunanya.

Kesehatan tentu tetap menjadi prioritas. Sampai saat ini, belum ada jaminan radiasi untuk penggunaan ponsel dalam waktu yang lama tak berdampak pada raga. Inilah kelebihan lain dari produk utama PT Telkom ini. Penggunanya dapat berinteraksi dengan mitra atau kerabatnya di ujung telepon tanpa harus mengkhawatirkan efek radiasi. Karena, sistem telekomunikasi telepon rumah terkoneksi dengan kabel.

Selain itu, penggunaan telepon di daerah ini umumnya hanya enam digit, mudah dihapal dan sangat praktis dalam menggunakan.  Meski namanya telepon rumah, namun banyak juga digunakan untuk keperluan kepentingan bisnis. Selain tarifnya yang hemat, telepon rumah juga dapat diparalelkan. Ditunjang pula dengan teknologi PABX / Extension untuk penggunaan satu nomor dalam satu kantor.
Ini didukung pula dengan fasilitas Hunting  dan tentu saja, faximile.yang dapat menerima data / surat dari mana saja tanpa harus menunggu lama, serta answering machine yang berfungsi sebagi mesin penjawab pada saat anda tak dirumah
Alat telekomunikasi yang dapat menerima telepon dari mana saja termasuk bebas menelepon ke seluruh dunia ini memiliki abonemen murah tanpa airtime. Sehingga sangat pas buat rumah maupun bisnis. Apalagi ketersediaan informasi terangkum dalam Yellow Pages dan 108 , yang masih menjadi salah satu pedoman bagi pengguna jasa telepon rumah.
Oleh karena itu tidak mengherankan apabila telepon rumah masih dapat bersaing dengan ponsel dan perusahaan telekomunikasi lainnya karena Telepon rumah adalah produk utama dari PT.TELKOM yang dapat merajut persaudaraan dengan kehangatan berkomunikasi.

Posted by: sabrirasyid | June 24, 2007

Tantangan dan Kreatifitas

Sekelompok pemuda yang bergerak di bidang sosial mendapatkan tantangan untuk melakukan sosialisasi sebuah kebijakan kepada masyarakat luas dengan dana yang terbatas. Dana yang tersedia hanya lima juta rupiah, sementara area kota atau target informasi yang harus disebarkan sangat luas. Secara sederhana, tentu kita akan menyarankan agar remaja tersebut cukup membuat spanduk, iklan di radio atau umbul-umbul. Masalahnya, info yang bisa ditampilkan dalam bentuk spanduk atau umbul-umbul sangat terbatas, sementara beban tugas yang ada sangat banyak.

Ternyata, kelompok remaja tadi memutar otak kreatifitasnya dengan cara memanfaatkan dana yang terbatas untuk membangkitkan partisitasi masyarakat. Caranya, aktifitas kegiatan dirubah dalam bentuk lomba pembuatan spanduk dengan peserta kelompok-kelompok remaja yang ada di kota tersebut. Masing-masing kelompok remaja diberikan kriteria dan informasi hal-hal yang harus disampaikan ke masyarakat sekitarnya dan penempatan spanduk harus ditempat strategis dalam lingkungannya. Disediakan hadiah dalam bentuk piala dan dana tunai yang berasal dari lima juta tadi.

Alhasil, dengan memanfaatkan kreatifitas, remaja tadi berhasil menggerakkan kelompok remaja lain untuk turut men-sosialisasi-kan apa yang menjadi tanggung-jawabnya dengan cara lomba pembuatan spanduk. Dengan dana terbatas berhasil mengumpulkan spanduk yang jauh lebih banyak dan lebih kreatif. Cerita ini saya dapatkan dari sahabat saya yang pernah tinggal di Jogja.

Kasus yang sama sangat sering dialami bagi kita yang diberi amanah di unit sales. Anggaran yang minim diberi target untuk maksimal impact dalam berpromosi. Untuk mengimplementasikan konsep 360 derajat marketing communication adalah hampir mustahil dilakukan mengingat anggaran yang tersedia terkadang hanya cukup untuk membeli spanduk dan umbul-umbul. Alhasil, melibatkan keluarga karyawan digunakan sebagai salah satu alternatif solusi dalam penjualan. Atau menawarkan pola barter dengan pihak vendor media, dan berbagai cara lain. Masalahnya adalah apakah alternatif solusi yang diambil memiliki unsur kreatifitas yang tinggi?

Masalah kreatifitas memang mutlak untuk mampu menembus pasar. Di Bali, saya mencoba mencicipi sebuah menu Ice Cream Goreng. Saya penasaran dengan sajian menu yang ada, karena ice cream sudah lazim kita ketahui dingin. Kali ini, dalam bentuk digoreng. Ternyata memang benar satu scope ice cream dilumuri terigu cair siap digoreng dan disajikan dalam bentuk seperti pisang goreng. Menarik bukan? Rasanya tetap ice cream. Ide ini juga telah mengilhami menu ice cream bakar. Kalau yang ini ice creamnya bukan dipanggang namun disiram sejenis wine lalu diberi api, jadilah ice cream bakar.

Ide kreatif bisa muncul sepanjang ada keberanian untuk melihat sebuah produk disisi lain. Kami mencoba memanfaatkan maskot sederhana (orang yang berpakaian aneh) untuk membagi-bagikan brosur setiap hari minggu pagi di pantai losari Makassar. Issu yang kami angkat dalam brosur ini adalah “33 alasan pakai telepon rumah”. Kami sengaja memilih angka 33 sebagai penarik perhatian bukan mengiklankan keunggulan atau kemudahan pasang baru telepon rumah.

Dengan fokus awal pada aktifitas membangun kembali awareness telepon rumah, maka lambat laun usage dan LIS telepon rumah akan kembali tumbuh. Tidak selamanya pasar memilih sebuah produk karena tarif yang murah, tetapi pada umumnya pasar mencari produk yang menawarkan value for money yang lebih dibanding produk pesaing. Lebih parah lagi, jika sebuah produk diluncurkan dengan tarif murah namun aktifitas komunikasinya diabaikan, maka lambat laun produk tersebut akan ditinggal oleh pelanggannya. Semoga telepon rumah yang sempat terabaikan dalam hal promosi, bisa bangkit dan jaya kembali. Kuncinya hanya satu, berani melakukan aktifitas marketing dengan cerdas dan tidak terjebak dalam hard selling sesaat.

Posted by: sabrirasyid | June 23, 2007

Internal Marketing

Pada saat kami mengikuti company visit di pabrik perakitan Motorola di Pulau Penang Malaysia beberapa waktu lalu, ada hal yang menarik untuk menjadi inspirasi dalam hal membangkitkan semangat kebanggaan terhadap perusahaan. Dimulai dari lima manager yang menerima kami pada saat presentasi bisnis proses yang ada pada pabrik tersebut, masing-masing memperkenalkan diri. Seperti biasa, pada saat kita memperkenalkan diri biasanya dimulai dengan menyebut nama, jabatan dan job. Namun, masing-masing manager Motorola tadi menambahkan berapa lama dia sudah bergabung pada perusahaan tersebut. Mungkin ini yang jarang kita lakukan pada saat memperkenalkan diri pada forum-forum resmi maupun non-formal.

Pas acara istirahat, saya iseng bertanya apakah cara tadi adalah standar pada perusahaan tersebut? Ternyata ada semacam aturan tidak tertulis untuk menyampaikan usia kerja sebagai tanda kebanggaan pada perusahaan mereka. Kamipun sebagai tamu ikut-ikutan menyebut usia kerja yang ternyata jauh lebih lama dari mereka, mulai dari lima belas hingga dua puluh lima tahun. Usai presentasi, kami diajak keliling pabrik melihat secara langsung bagian perakitan. Mereka mencoba menjelaskan bagaimana sebuah performansi kinerja diukur berdasarkan waktu, kualitas dan kuantitas produksi. Karena saya kurang tertarik dalam hal produksi, saya mencoba melihat-lihat gambar dan poster yang tertempel di dinding. Nampak beberapa poster yang bergambarkan wajah-wajah manager. Misalnya, seorang poster dengan foto manager teknik bertuliskan nama, kewenangan dan tanggung jawab dan ditutup dengan I’M MOTO sebagai kalimat penutup. Semua poster tersebut memiliki ciri khas yang sama dengan kalimat penutup I’M MOTO. Sekilas, saya menangkap kesan bahwa perusahaan ini melakukan internal marketing dengan dimulai dari membangun semangat kebanggaan terhadap tugas. Karyawan sangat bangga bekerja dan mengabdikan diri karena saya adalah MOTO (sebutan singkat Motorola) atau bagian dari perusahaan ini. Poster-poster seperti ini terpampang di beberapa dinding dan ruang-ruang tangga. Di TELKOM, rasanya belum pernah saya melihat metode Internal Marketing seperti ini kecuali di balik kartu pegawai. Bagi karyawan ex Divre-VII terdapat tulisan “I am the best person for the job that I do because I am TELKOM employee”. Atau mungkin sudah ada namun dalam bentuk yang berbeda. Berdasarkan inspirasi tersebut diatas, tidak ada salahnya jika kita memulai dari yang model sederhana. Buat poster ukuran A3, pasang foto Anda yang sedang tersenyum untuk menggambarkan semangat, lalu tambahkan tulisan ; Saya SABRI, saya bertanggung jawab pada sales fixed phone Makassar area, saya sangat bangga dan ihlas mengerjakan karena saya adalah TELKOM. Poster tersebut tentu saja tidak harus foto manager, petugas jaringan-pun bisa dibuatkan untuk menumbuhkan semangat tim. Yang pasti, internal marketing juga harus diperhatikan sebelum Anda melakukan external marketing. Selamat mencoba!

Categories